Minggu, 15 Maret 2015

Sejatinya Menikah

Dulu, saat mendengar kata 'menikah' saya biasa-biasa aja, tak ada sesuatu yang spesial dari keinginan saya untuk menikah. Yang saya tau, menikah itu pasti, semua orang telah ditetapkan jodohnya oleh Allah, dan setiap orang pada akhirnya akan menikah, lalu mempunyai keturunan dan seterusnya. Sungguh, nothing special.

Semakin kesini, semakin saya sadar, ternyata esensi menikah itu tidak sesempit yang saya pikirkan. Lalu saya semakin paham makna dari pernikahan yang disebut menggenapkan separuh agama. Bagaimana tidak, ketika seseorang sudah dikatakan matang dalam segala hal, baik jasmani, rohani, dan materi, apalagi yang dicarinya selain kebahagiaan untuk berbagi? Kebahagiaan bersama merayakan fitrah dari Tuhan. Kebahagiaan berjuang bersama dalam agama. Ya, menggenapkan kebahagiaan itu dengan pasangan dan anak-anak yang sholeh dan sholehah *duh, ngilerr*

Namun, menurut saya yang paling krusial yang harus terpatri dalam diri sepasang insan yang akan menikah adalah menikah bukan hanya menyatukan dua insan, lebih dari itu, menikah merupakan penyatuan dua keluarga. Klise memang. Namun pada prakteknya biduk rumah tangga bisa terombang-ambing jika dua insan tak berhasil melakoninya, bahkan pelayaran pernikahan bisa saja karam jika suami istri tak pandai melakukan penyatuan tersebut.

Oleh sebabnya, penting bagi laki-laki maupun perempuan yang hendak menikah untuk mengetahui seluk beluk keluarga pasangan yang akan dinikahi. Bahkan agama kita pun sudah mewanti-wanti hal tersebut. Nah, bagaimana halnya jika pernikahan sudah terjadi, belakangan baru ketahuan bobroknya keluarga pasangan? Hmmm...hmmm...hmmm *mikir keras*

Saya punya teman yang usia pernikahannya belum genap setahun. Sebut saja namanya Bunga. Proses pernikahannya terbilang islami karena memang dia dan suaminya tidak pernah pacaran dan seingat saya hanya menjalani proses ta'aruf lebih kurang 3 bulan. Setelah bertanya kesana kemari perihal lelaki ta'arufannya itu, Bunga mantap menikah dengannya. Karena memang semua merekomendasikan kebaikan dari lelaki tersebut. Barakallah. Akhirnya teman saya ini menikah dengan lelaki yang dicintainya.

Tak ayal masalah demi masalah mulai timbul di hari pesta pernikahan. Bukan dari suaminya, melainkan dari ibu mertua Bunga. Waktu itu Bunga tak ambil pusing, dan semuanya berjalan seperti yang diharapkan. Seiring berjalannya waktu, Bunga melihat ada yang tidak beres dengan ibu mertuanya tersebut. Selain suka ngatur, apa yang dilakukan Bunga selalu salah. Begitu menurut Bunga. Sering kali Bunga merasa makan hati dengan omongan-omongan yang dilontarkan ibu mertua. "Bahkan dia sempat-sempatnya komenin pakaian aku yang menurutnya kurang modis", curhat Bunga pada saya waktu itu. Wow!

Speechless. Need fresh air. Begitulah perasaan saya setelah berkali-kali mendengar Bunga curhat lengkap dengan linangan air matanya.

Oke, let's see. Jika pernikahan Bunga diibaratkan sebuah sinetron, saat Bunga adalah pemeran protagonis dan ibu mertua sebagai antagonis, bisa dipastikan semua yang membaca cerita ini sangat membenci ibu mertua yang seperti beliau. Sebaliknya, ini adalah kisah nyata. Ini cerita rumah tangga yang asli terjadi di kehidupan kita. Bukan sinetron. Menurut saya, tak ada salahnya Bunga mencoba berperan sebagai antagonis. Dia yang seharusnya mengerti ibu mertuanya. Sejahat apapun wanita tersebut menurutnya, kenyataannya adalah ibu mertua juga seperti ibu kandung, yang harus kita jaga hatinya. Bayangkan saja, seorang ibu yang melahirkan anak laki-laki, yang dari kecil dia rawat sepenuh hati, namun akhirnya anak lelakinya harus membagi cinta dengan wanita yang bahkan baru dijumpainya setelah dewasa. Mungkin ibu tersebut merasa 'kehilangan' anak lelakinya, yang harus membagi cinta dengan istrinya. Walau terkadang cara ibu itu mengekspresikan rasa kehilangannya kurang tepat. Tapi sekali lagi, beliau adalah orang tua, yang harus dijaga hatinya.

Sudah sepatutnya bagi suami istri menjaga hubungan baik dengan kedua belah pihak keluarga. Pandai-pandailah mengambil hati mertua, kakak/ abang/ adik ipar, karena sejatinya menikah adalah memperluas hubungan persaudaraan, mempererat silaturrahmi, bahkan menyatukan dua keluarga yang dulunya tidak saling mengenal. Wallahu'alam.

Tidak ada komentar: