Baru-baru ini ketua grup ODOJ #2547 kami, mbak Nina Rialita Ginting, mengusung segmen baru, yaitu pengenalan artis. Haha. Kedengeran lebay, yak. Tapi cukup ampuh untuk membuat seluruh anggota grup semakin mengenal mesra pribadi dan kehidupan antar anggota. Aturannya sederhana, selepas maghrib satu anggota yang bertugas sebagai artis hari itu cukup memaparkan biodata lengkap dirinya, setelah itu anggota lain silahkan bertanya semaunya dan sepuasnya, bebas.
Dari sekian banyak pertanyaan audience, selalu pertanyaan seputar pernikahan yang menjadi fokus utama. Dan dari sekian banyak cerita pernikahan, saya sangat kagum dengan cerita pernikahan salah satu anggota grup kami, yang akrab disapa 'Bunda'.
Bunda, waktu itu usianya tepat berkepala tiga, namun belum juga dipertemukan dengan jodohnya. "Sebenarnya saya sudah ditahap pasrah. Tahun lalu adik laki-laki saya menikah duluan. Tahun ini saya malah dilangkahi adik sepupu yang begitu akrab dengan saya", curhatnya malam itu. "Waktu ijab qabul-nya adik sepupu, saya sediiih sekali, saya sempat protes ke Allah, mengapa Allah seperti tidak adil terhadap saya. Astaghfirullah", tambahnya. Namun lagi-lagi, wanita manis dan periang ini tak pernah lupa menyebutkan kata-kata sabar dan ikhlas dalam setiap ucapannya. "Hanya bang sabar dan bang ikhlas yang diutus Allah sebagai pelipur lara saya saat itu. Hehehe", candanya.
Dan siapa sangka, Maha Besar Allah yang cinta-Nya begitu luas terhadap hamba-Nya, tahun ini ternyata Bunda dipersatukan dengan jodohnya. Ceritanya berawal dari sebuah pesta pernikahan adik sepupunya tadi (ceilee, kayak di pelem-pelem india). Bunda yang waktu itu terlibat dalam kepanitiaan acara, wara wiri kesana kemari mengurus segala keperluan pesta. Tak disangka tak dinanya, seorang ibu-ibu paruh baya memperhatikan gerak-gerik Bunda dari kejauhan (lagi-lagi kayak sinetron, hahaha). Lalu dia dihampiri ibu tersebut dan langsung ditodong dengan pertanyaan, "Kamu Vivi, ya? Bisa bicara sebentar, nak?". Deg!
Oh, iya, Vivi nama samarannya Bunda, ya, pemirsa. Catet! Bukan nama asli. Hehe.
Singkat cerita, ternyata ibu itu adalah calon mertuanya Bunda, alias emaknya calon suaminya dia (eheey, so sweet ;p). Ibu tersebut tertarik dengan kepribadian Bunda dan bermaksud menjodohkan dengan putranya (alamaaak, what a beautiful love story). Bunda pun akhirnya bermusyawarah dengan keluarga besarnya, dan ternyata selain 'lelaki di hari pesta' itu, ada beberapa lelaki lain yang sedang mendekatinya. Akhirnya kesimpulan pun mengerucut untuk menerima tawaran dari 'ibu di hari pesta' itu. "Bagaimana pun, tidak etis rasanya jika saya langsung menolak. Setidaknya saya harus berkenalan dulu", imbuhnya.
Seminggu setelah kejadian di hari pesta, keluarga dari pihak laki-laki berniat mengunjungi kediaman orang tua Bunda. "Malam itu hujan lebat, mati lampu pula. Harap-harap cemas kami menunggu kedatangan mereka. Sempat saya berpikir dia tidak akan datang. Tapi lagi-lagi Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Malam itu saya melihat keseriusan dia dan keluarganya terhadap saya. Tak peduli hujan lebat dan mati lampu, mereka sampai dirumah saya".
Alhamdulillah. Empat bulan setelah kunjungan itu mereka bertunangan, dan selang sebulan kemudian Bunda dan suaminya resmi menikah.
Subhanallah. Allah Maha Agung. Allah Maha Pemurah. Tak cukup rasanya puji-pujian dari seluruh semesta ini diwakilkan untuk memuji Allah SWT.
Disaat manusia pasrah dan hanya menaruh harap pada-Nya, disitulah pertolongan Allah datang. Karena sejatinya berharap hanya kepada Allah. Jika harapan disandarkan pada manusia, maka yang tersisa hanya kecewa.
Jodoh itu bukan perihal cepat atau lambat, bukan masalah seberapa lama kita mengenalnya, bukan pula tentang seberapa dekat kita dengan keluarganya. Namun jodoh itu adalah seberapa yakin kita akan takdir-Nya, seberapa sabar kita menanti dipertemukan dengannya, dan seberapa ikhlas kita menerima apa yang ditakdirkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar