Selasa, 31 Mei 2016

Duhai Penunggang Kuda Putih

Untukmu wahai penunggang kuda putihku...

Lelah. Kadang aku berpikir memang lelah. Sesuai dengan kodratnya, wanita hanya menunggu. Dan kau tahu? Menunggu adalah pekerjaan yang bisa saja menjadikan manusia berada dititik terlelah.

Tapi, tidak. Aku tidak memintamu memacu kuda putihmu. Karena aku tak kuasa membayangkan peluhmu, yang sejatinya belum dapat kuusap.

Hanya yakinku yang menguatkan jalan ini. Yakin bahwa Tuhan menciptakan aku sebagai pelengkap tulang rusukmu.

Namun tetap saja, pertanyaan tentang kapan dan siapa tetap saja mengelabui relung hati. Tiada henti. Hingga kadang khilaf pun menyapa, dan pertanyaan tentang apakah kau merasakan hal yang sama selalu saja menghampiri.

Sekali lagi, aku tidak memintamu berpacu, karena aku belum mampu mengusap peluhmu.

Santai saja. Biarlah Tuhan menjalankan rencananya. Kau disana dengan segala usahamu, dan aku disini dengan segenap kesabaranku. Tetap dengan ketidaktahuan kita masing-masing. Tetap tidak saling mengenal. Lalu percayakan pada doa yang menjadi perantara rindu. Karena namamu dihatiku hanyalah kepingan abjad yang belum dapat aku susun.

Ya, adakah yang lebih manis dari jalan penantian yang kita tempuh, duhai penunggang kuda putihku?

"Z"

Tidak ada komentar: