Jumat, 25 April 2014

Belajar dari Dulce Maria

Sebenarnya tak ada yang spesial dari bocah kecil disamping ini, Tilla namanya. Dilihat sekilas dia sama seperti anak-anak lain yang seusianya, gadis kecil yang sibuk menghabiskan masa kanak-kanak dengan bermain sepanjang hari. Usianya genap delapan tahun saat aq menulis tulisan ini, kelas dua sekolah dasar tepatnya. Dan yang ingin aq tunjukkan adalah betapa sebenarnya gadis ini tidak seperti bocah2 lain yg umurnya sama seperti dia. Pemikirannya dewasa, emosinya tertata, perawakannya anggun. Sungguh! Aq sangat amazed saat beberapa kali menemukan kehebatan yg benar2 luar biasa darinya.


Dua tahun yg lalu ibu kandungnya dipanggil oleh Allah SWT. Dokter memvonis bahwa virus2 kanker telah menggrogoti sel2 otak tante qu itu. Sudah banyak tempat2 pengobatan yg dikunjungi oleh pihak keluarga, tapi tetap saja nihil. Ajal menjemput disaat beliau berusia 32 tahun, usia yg terlalu dini untuk alasan meninggalkan anak2 yg masih bocah. Saat itu Tilla duduk di bangku taman kanak2, disinilah awal mula aq terpana dengan kekuatan spiritual yg terpancar dari dalam dirinya.
Suasana duka menyelimuti kediaman keluarga besar kakek qu saat itu. Sungguh aq tidak bisa membendung pilu atas musibah ini. Belum puas rasanya aq bermanja-manja dengan tante qu yg paling baik saat itu. Isak tangis terdengar dimana2, dan qu putuskan untuk menyusul ibu qu ke ruangan dimana tante qu ditidurkan dlm keadaan tak bernyawa. Disanalah aq melihat Tilla, duduk dengan tenang, tepat disamping kepala ibunya. Tidak ada rengekan yg biasanya dilakukan anak2 jika melihat keadaan yg berbeda dr biasanya, keluarganya, orang2 yg tak dikenalnya, bahkan ayah kandungnya pun menangis, tapi tetap saja tidak ada sedikitpun air mata yg membendungi pelupuk matanya, raut wajahnya sangat tenang, seolah ada malaikat yg sedang mengepakkan sayap melindungi gadis kecil itu. Rasanya aq kecil sekali dihadapan Allah dibandingkan dgn makhluk kecil tapi berhati besar ini.
Beberapa hari setelahnya aq sering memperhatikan anak itu. Pernah suatu ketika aq terperanjat melihat Tilla duduk sendirian di serambi depan rumah kakek qu. Tak biasanya aq menjumpainya dlm keadaan seperti saat itu. Tilla anak yg enerjik dan cerdas, selalu saja ada hal yg dilakukannya untuk membunuh rasa bosan. Segera kuhampiri dan aq mencoba bercanda seperti biasa layaknya tak ada musibah yg sebenarnya sedang ditanggung olehnya. Ketika itu aq ternganga dibuatnya. “Kak, tadi dek Tia liat mama, dijembatan dekat sungai, mama senyum liat dek Tia”, itulah kalimat Tilla yg saat itu sempat membuat kuduk qu berdiri tanpa diperintah. “Sekayang mama di sulga lho kak”, lanjutnya. Subhanallah! Segera kurangkul Tilla kepelukan qu, aq benar2 tidak sanggup menahan air mata yg berdesakan ingin berlinang. Dan lagi-lagi, tak terlihat sedikit pun bekas ataupun calon air mata yg akan tumpah di pipi nya.
Sejak kecil Tilla dididik untuk membiasakan shalat lima waktu, bahkan diusianya yg masih jauh dari baligh dia pernah berpuasa penuh, padahal tidak ada paksaan dari keluarganya. Suatu hari selesai qu tunaikan ibadah shalat qu, seperti biasa aq menadahkan tangan untuk melakukan ritual request qu kpd Allah. Aq tersentak, kaget bukan kepalang. Kurasakan ada yg melingkar dileherku, perlahan kubuka mataku, dengan mulut tetap komat kamit menghabiskan sisa doa qu. Ternyata ada Tilla, dia memeluk qu dr belakang, kedua tangannya dilingkarkan dileher qu, dan telinganya diposisikan tepat disamping bibir qu. Keadaan ini benar2 membuat qu bertanya2 dan pastinya membuyarkan kekusyukan qu. Segera kuakhiri doa, lalu kurangkul anak itu, dan aq tersenyum padanya, “dek tilla tadi ngapain, sayang?”, tanya qu dgn lembut. “Kak Un, tadi baca doa apa?”, tanya nya polos dengan gelagat malu2.
Subhanallah! Tak hentinya aq bermunajat krn telah dikaruniai seorang adik sepupu yg benar2 luar biasa. Ternyata dy mencoba mendengar bisikan2 kecil doa qu tadi. Lagi-lagi dia membuat qu terkesima. Sejenak dy mendengar dgn seksama petuah singkat qu, lalu dy melanjutkan kata2nya, “Dek Tia di ajayin kakek doa na, abis calat dek Tia doain mama”, begitu lebih kurang kosa kata yg digunakannya, dengan beberapa huruf yg belum sempurna pelafalannya.

Aq benar2 menemukan sosok Dulce Maria dlm diri sepupu qu yg satu ini. Anak manis, kreatif, cerdas, sabar, suka menolong, dan sangat lembut hatinya. Hingga terakhir dy menyebut ibu kandungnya sebagai ‘mama surga’, karena sekarang dy telah mempunyai ibu baru, ibu tirinya.

Tulisan ini saya tulis lebih kurang 5 tahun yg lalu, kira-kira tahun 2009. Beberapa hari yg lalu saya menemukan kembali tulisan ini yg telah sekian lama hilang :D
Sekarang Tilla si Dulce Maria telah tumbuh besar. Dua hari yg lalu ia baru saja berulang tahun yg ke-13. Tilla yg sekarang telah menjelma menjadi muslimah cantik nan anggun lagi baik hati. Penasaran? Ini dia....taraaaaaaaa....(awas naksir, haha :p)

Tidak ada komentar: