8.18 wib,
ruang kelas IB SMTI Banda Aceh.
Perasaan bahagia.
Ya, terlalu lama aku tak merasakan kebahagiaan sebahagia ini. Guess what
pinkers? Saat ini aku sedang berada di dalam ruangan salah satu kelas di salah
satu sekolah di Banda Aceh. Sudah lama aku tak merasakan feeling so alive, I feel
like I can touch the sky (lebayberatdotcom). Tapi, bukan bukan. Bukan karena
aku sedang di dalam kelas alasan aku bahagia hari ini, tapi karena…
Begini ceritanya.
Iin. Salah satu
anggota genkkunti menawarkan oja mengajar di SMTI (sekolah tempat dulu iin PPL)
sebagai guru pengganti selama seminggu. Pasalnya, guru tersebut penataran ke
Jakarta. Ceritanya itu guru jam tayangnya lumayan padat, kayak lalu lintas pagi
hari. Alhasil oja memutuskan untuk mengajar kelas satu, dan aku dibebankan
kelas dua. Hogeh. Jadilah aku kecipratan job.
Hari ini,
kamis, aku telah menuntaskan amanat mengajar itu dengan sempurna. Jujur, hari
senin sampai hari rabu kemarin aku merasa menjadi gadis muda nan cantik
tersibuk di dunia (ahaak). Gimana kagak coba pinkers? I’ve to wake up earlier
than usual. That’s the point! Masuk pagi setiap hari, berpacu di jalanan biar
gak kena macet pagi yang super nyebelin, dan itu aku lakukan selama tiga hari
berturut-turut. Belum lagi saat kena jam ngajar sampe siang, gak sempat pulang
kerumah lalu harus sholat dhuhur di SPBU yang kebetulan letaknya pas di depan
sekolah, kemudian makan siang di warung terdekat, dan masuk kelas lagi. Very very
busy, right? I think so. Memang sih, aku gak sendirian. Oja selalu menemani. Saat
aku mengajar di depan kelas, oja dengan setia duduk manis di pojok belakang
ruangan sambil melakukan ntah apa yang dilakukan. And today… kejadiannya
kebalik. Saat ini oja sedang cuap-cuap di depan kelas dengan semangatnya, dan
aku? Yap! Duduk manis nan anggun di pojok ruangan kelas ditemani laptop
kesayangan. Kebahagiaan tiada tara. Kenikmatan tak terkira. Saat aku
berkesempatan bermanja-manja dengan barang elektronik yang sudah bertahun-tahun
menemani hari-hariku. Karena hari ini, aku memiliki banyak waktu untuk menulis.
Ya, itulah bahagiaku. Begitu sederhana.