Selasa, 10 September 2013

Cilok oh Cilok

Sore ini judulnya kuyup lagi. Yap! Kakak kuyup lagi, maak *feeling beat up*.  Pasalnya tadi begitu selesai jam ngajar jarimatika, aku dan beberapa miss miss yang lain nggak langsung pulang. Alasannya sih karena hujan yang sebenarnya nggak terlalu lebat. Tapii, namanya ibu-ibu yaa kalau sudah ngumpul yah cucok bookk. Pasti ada saja topiknya. Obrolan sore ini kebetulan tentang “suamiku diembat si mbok”. Hahaha. Lucu ya kedengarannya. Tapi memang lucu sih. Inti dari cerita adalah ada tetangga dari temen yang anaknya mirip ‘si mbok’ dan suaminya pun ikut diembat. Ckckckck *tepuk jidat*. Menurut narasumber, si istri seorang wanita karir dan sering keluar kota untuk urusan pekerjaan. Nah, sang suami pun tak menyia-nyiakan kesempatan berlian. Dengan service memuaskan dari seorang wanita yang serumah dengannya dan setiap hari dilihatnya, bahkan lebih sering dari istri sah-nya, pria mana yang tidak jatuh hati? Akhirnya menikahlah si suami dan si mbok dengan status pernikahan yang tidak terdaftar dalam catatan Kantor Urusan Agama, alias nikah siri. Cerita punya cerita, sepandai-pandainya tupai melompat ya akhirnya jatuh juga. Dengan segala upaya mereka menutupi keburukan itu, akhirnya terendus juga oleh nyonya besar. Yah, itulah sekilas info tentang problematika rumah tangga yang ada disekitar kita.
Tapi, wait! Sebenarnya bukan ini isi cerita sore ini. Yasudah tak apa lah. Toh bisa juga diambil pesan-pesan yang tersirat di dalamnya.
Jadi ceritanya, setelah puas ngerumpi dan menumpahkan cuap-cuap dengan segenap jiwa raga, dan hujan pun sebenarnya sudah dari tadi reda (masyaAllah), akhirnya para perumpi pun bubar barisan jalan (haha). Di perjalanan, hujan pun dengan malu-malu hujan (bukan malu-malu kucing ya, kalo malu-malu kucing ya kucingnya yang malu) mulai cari perhatian lagi ke bumi. Karena aku hampir mencapai rumahku, kuputuskan untuk memacu kendaraanku seperti setengah gila (omaygat). Nah, yang lebih gila lagi, begitu sampai tepat dipagar depan rumah, hati kecilku berbisik seperti ingin makan cilok. Bak ibu-ibu hamil yang ngidam na'udzubillah, tanpa dikomando siapa pun kurogoh ponselku dari dalam tas, aku hubungi odah. Tak perlu menunggu lama langsung ada jawaban dari orang yang kuhubungi. “Od, hujan-hujan gini makan cilok maknyus nih, cuss yuk!”, sambarku begitu kudengar suara dari sebelah. “Haa? Gila? Hujan kalii”, jawab odah kaget. “Tenang od, kemudi di aku, pokoknya ikut aja, aku jemput sekarang”. Tak sampai satu menit aku sudah bertengger di halaman rumah odah (iyaalah, wong rumah odah dibelakang rumahku). Rupanya odah langsung keluar dengan busana seadanya. Tebakanku sih itu orang belum mandi. Tapi sudahlah, mandi nggak mandi yang penting dia nemenin aku (Haha). “Lu orang stres mampus ya, padahal tadi pulang ngajar kan ngelewati tukang cilok, kok mesti pulang dulu terus balik lagi kesono?”, serbu odah sambil menghadiahkan tempeleng kesayangannya kearahku (sialan). “Itu dia masalahnya, Od. Ngidamnya itu tadi paaas banget sampe depan rumah. Terus aku kudu piye, donk? Hahaha”. Guess what? Odah manyun. Yes! Hahaha.
Sekitar 15 menit kemudian sampai lah aku dan Odah di kediaman cilok tersayang. Setelah cilok pesananku selesai dibungkus, kuraih cilok dan kubawa pulang dengan hati riang gembira. Di perjalanan, hujan kembali menyapa bumi tanpa ampun. Deras bingiiiit. Tak lama kemudian kami pun sampai di rumah masing-masing. Setelah kuantar Odah ke rumahnya dan kuhadiahkan dia cilok karena dengan ikhlas (walaupun mungkin tidak, haha) menemaniku walau badai menghadang (oke, lebay!). Thanks a lot, Od! *hug’nkiss*.
Akhirnya, tadaaaa…
Kini tinggallah aku dan cilokku berdua, bermesraan dalam syahdunya bahasa kalbu (eaaak). Dalam keadaan basah kuyup, tak kusia-siakan kesempatan romantis saat itu, kunikmati cilokku dengan segenap jiwa raga serta penuh penjiwaan. Ahh, cilok oh cilok. Benar-benar aku merasakan seperti menikmati makanan Korea yang aku sendiri nggak tau apa nama makanan itu. Baiklah, itu ceritaku. Sore gila bersama cilok oh cilok.


Note: aku pastikan pembaca kebingungan dengan sosok Odah. Siapa Odah? Janjiku, akan ada cerita full version tentang aku dan my Odah. Juga awal cerita aku dan pekerjaanku, coming soon.