Kamis, 15 Agustus 2013

Dibalik Awan Mendung Masih Ada Pelangi


Burung tidak akan memperoleh makanan jika ia tidak terbang dari sangkarnya. Singa tidak akan memperoleh kebutuhannya jika tetap berdiam di dalam kandangnya. Makanan untuk para semut tidak akan didapatkan jika mereka tidak beranjak dari lubangnya. Sesungguhnya semua mereka mencari dan mengusahakan makanannya. Oleh sebab itu, carilah ilmu dan bekerjalah sebagaimana para hewan itu berbuat maka kamu juga akan mendapatkan apa yang kamu cari sebagaimana mereka.
            Namun, pernahkah kamu merasa putus asa disaat sesuatu yang kamu dapat tak seperti yang kamu harapkan??
Orang buta sangat berharap bisa melihat alam. Orang tuli berkeinginan besar untuk bisa mendengar suara-suara. Orang yang lumpuh sangat bercita-cita untuk bisa melangkah, dan orang bisu pun sangat besar harapannya untuk bisa berkata-kata.
Lalu, ingatkah kita akan takdir?
            Untuk memahami takdir manusia harus hidup dengan ikhtiar, sebab dalam kehidupan sehari-hari nyatanya takdir Ilahi berkaitan erat dengan usaha manusia. Usaha manusia haruslah maksimal (sebanyak-banyaknya) dan optimal (sebaik-baiknya) diiringi dengan doa dan tawakkal. Tawakkal yang dimaksud adalah tawakkal dalam makna menyerahkan nasib dan kesudahan usaha kita pada Allah, sementara kita terus berikhtiar serta yakin bahwa penentuan terakhir segala-galanya berada dalam kekuasaanNya. Inilah makna takdir yang sebenarnya.
            Sungguh! Semua telah diatur olehNya. Ketika kita minta pada Allah bunga segar, Allah berikan kaktus berduri. Ketika kita minta binatang mungil, Allah berikan ulat bulu. Kita sedih, protes, dan kecewa. Betapa tidak adilnya ini. Lalu, kaktus itu berbunga indah dan ulat pun jadi kupu-kupu yang sangat cantik. Ternyata Allah punya rencana sendiri, itulah jalan Allah indah pada waktunya. Allah tidak memberikan sesuatu seperti yang kita harapkan, tapi sebenarnya Dia sedang merajut yang terbaik bagi hambaNya.

Kemenangan seseorang bukan diukur dari keberhasilannya menaklukkan lawan, tapi ketika ia jatuh dan mampu bangkit kembali, saat itulah orang tersebut dikatakan menang. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acapkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita, dan orang-orang yang mampu melihat bahkan mencari pintu-pintu itu, merekalah yang disebut pemenang.